Diare… Oh Diare…

Orangtua mana yang nggak jadi pusing dan khawatir dibuat sama penyakit ‘umum’ dan ‘musiman’ yang menyerang buah hati tercinta. Apalagi kalau anak kita sudah mengeluh sakit perut berkepanjangan. Belum lagi kalau tiba-tiba si kecil menjadi lemas dan lesu. Cemas ia menjadi dehidrasi kan.. Duh, rasanya gemes dan ingin membuat penyakit itu pindah ke badan saya saja! “Hei, diare! Enyah kau dari perut dan pencernaan anakku!”

Diare. Penyakit yang satu ini memang sering kali membuat kami para orangtua menjadi khawatir dan cemas. Gimana tidak, ternyata di Indonesia sekitar 31,4% angka kematian bayi disebabkan oleh diare. Dan 25% di antaranya adalah balita berusia 1-4 tahun yang sampai dehidrasi! Nah, anakku sekarang kan usianya baru menjelang 4 tahun!

Melihat buku riwayat medisnya Jaler Kei Hikam Raihan Hidayat (Kei), kira-kira setahun lalu di bulan Maret 2015, penyakit yang sama pun mampir mengunjungi tubuhnya yang mungil. Dalam beberapa hari saja, berat badannya turun drastis, meski saya sebagai orangtuanya cukup bersyukur dia tak sampai dehidrasi. Di tahun 2016 ini, penyakit diare pun mampir lagi di tubuhnya yang sudah mulai menggembil. Ah, hanya dalam hitungan hari, kira-kira 3 hari saja, beratnya yang sudah mencapai 15 kg turun menjadi 13 kg dengan tinggi badannya yang mencapai 107 cm. Hmm.. cukup ceking, kan!

Saya lupa di tahun 2015 Kei terkena diare karena apa.. tapi yang jelas obat warung penghambat dan pencegah diare tak mempan memerangi bakter yang ada di dalam pencernaannya. Kei langsung saya bawa ke dokter. Saat itu, dokter menyarankan agar Kei diberikan Lacto-B dan menghentikan sebentar asupan susu formulanya saja mengingat usianya yang belum mencapai 3 tahun. Pemberian antibiotik tak menjadi rekomendasi utama dr Mutiara Siagian, SpA yang praktek di RS Ibu & Anak, Buah Hati Ciputat. Beliau menyarankan agar Kei banyak mengonsumsi cairan dan makan makanan padat secara teratur.

Di tahun 2016, kembali diare menyerang pencernaan Kei. Kali ini saya bisalah mengira-ngira penyebab kei terkena diare. Ceritanya, saya dan suami mengajak kei main air di Ocean Park BSD. Kebetulan, hari itu matahari nggak terlalu garang memancarkan sinarnya. Ya, lumayanlah, mendung-mendung panas gimanaaa gitu. Nah, sekitar jam 11an, kita berangkat ke Ocean Park.

mtf_wMkPI_112.jpg

IMG_20160808_135227

IMG_20160808_135959

Di perjalanan, saya agak dag-dig-dug juga sih, karena langit dengan cepat berubah mendung. Mendung, mendung sangat. Titik-titik air pun sudah mulai turun kecil-kecil. Saya sempat mencandai Kei. “Kei, hujan nih. Ntar kalau berenang, basah kena hujan gimana?” Dengan sigapnya dia menjawab, “Yaaahh mama, kan berenang juga basah, Maa. Mama nih, kacau!” Hahahah.. saya tertawa. Ayahnya pun ikut menimpali jawaban Kei. “Biarin ya, Kei kan enak, berenang sambil main hujan-hujanan!” Saya tersenyum simpul.

IMG_20160808_140212Tiba di Ocean Park, beli tiket, ganti baju berenang, simpan semua tas di loker, kecuali telepon genggam dan uang yang dimasukkan ayahnya ke dalam sebuah kantong plastik antiair yang bisa dikalungkan di leher. Tangan mungil Kei saya gandeng menuju ke kolam renang. Tiba-tiba, Kei teriak bersamaan dengna bunyi petir bergemuruh. “Aaaah.. takut, Ma…hujaann… nanti aja, Maa berenangnya!” Akhirnya hujan deras pun turun, kami sempat menunggu di bawah awning sebelum berjalan menuju ke kolam anak-anak yang cetek. Saat hujan sudah mulai merintik, Kei mulai menarik-narik tangan saya menuju ke kolam anak-anak dan mulai menyelup-nyelupkan kepalanya ke dalam air.

Berpuas di kolam anak-anak, saya dan suami mengajak Kei jalan ke kolam ombak. “Ayo Kei, ke kolam ombak. Seru deh.. yuk!” Awalnya Kei menolak, karena takut. Tapi begitu saya gandeng dan berjalan ke kolam ombak, dia seneng banget! Di kolam ombak, Kei tanpa takut langsung berjalan ke tengah. Duduk, berdiri, main cipratan air dengan ayahnya, sambil sesekali mengajak saya ikut nyebur ke kolam.

IMG_20160808_142306_HDR

IMG_20160808_144723

IMG_20160808_150550_HDR
Tak lama, dari arah depan Kei ada seorang anak perempuan kecil, besarnya kira-kira sama dengan Kei, hanya lebih pendek. Saya yang sudah berada di dalam kolam ombak itu menghampirinya dan bertanya, “Hei, kamu kok sendirian? Mamanya mana? Aduhh.. kok dibiarin sendirian sih? Eh, kamu namanya siapa? Sini main air sama Kei!” Akhirnya saya mengetahui nama anak perempuan kecil yang lucu itu dari sang Ayah yang tak lama menghampiri dan mengajak anaknya keluar dari kolam ombak. Aura nggak mau keluar dari kolam, dia tetap bermain air dengan Kei, sambil sesekali menyiprat-nyipratkan air ke muka Kei. Hahahaha.. beraniinyaa….Saking asyiknya bermain air, Kei dan Aura terlihat beberapa kali berlomba meminum air kolam ombak dengan sengaja. “Aduuuh…nak, itu air kotor, jangan diminum dan ditelan!” teriak saya. “Hayooo nggak boleh ditelen ya, airnya. Kotor yaaa….” Kedua anak kecil itu hanya mengangguk pelan, sambil menyipratkan air ke muka saya. Duh, bocah!

IMG_20160808_153543_HDRAkhirnya, Aura dan Kei mulai bosan di kolam ombak. Saat Aura dijemput oleh ibunya, saya menarik tangan Kei keluar dari kolam ombak, dan mengajaknya kembali bermain di kolam air anak-anak. Hari sudah mulai sore, hujan pun sudah lama berhenti. Tapi Kei masih ingin main di dekat air mancur. Tak lama kemudian, kami mengajak Kei untuk mandi, bersih-bersih, dan ganti baju. Tiba-tiba, hujan kembali turun dengan derasnya. Kami sempat berteduh menunggu hujan di ruang tunggu Ocean Park, sambil menunggu Kei main mobil-mobilan koin yang ada di area bermain anak. Begitu hujan sudah mereda, kami langsung berjalan ke parkiran dan mengajak Kei pulang dan mampir di sebuah pusat belanja di kawasan bintaro untuk makan malam. Hari yang melelahkan tapi menyenangkan.

Keesokkan malam harinya, tiba-tiba saya mengamati mata sebelah kiri kei mulai berair dan mengeluarkan tahi mata. Agak worry juga sih, secara tetangga depan rumah lagi kena sakit mata. Duh, biyung, semoga anakku baik-baik aja. Saya periksa dengan teliti, saya tanya anaknya, apakah gatal matanya, akhirnya saya meneteskan obat tetes mata Kei yang pernah diberikan dokter anaknya beberapa waktu lalu.

Sekali, dua kali, tiga kali tetes, matanya mulai membaik.  Setelah mandisore, tiba-tiba suhu badannya naik. Kei panas tinggi. Alhamdulillah nggak sampai demam, menggigil. Saya segera memberinya obat turun panas. Malamnya, panas badan Kei tak kunjung turun. Akhirnya saya tempelkan Bye-Bye Fever (ah, sori nih, sebut merek) di bawah ketiaknya saat ia tidur.

Alhamdulillah, panasnya sedikit demi sedikit mulai turun. Haduhh… kenapa yaa ini anak? Bisik saya dalam hati. Apa masuk angin? Paginya, kondisi badan Kei sudah seperti biasanya, tapi pagi itu BAB-nya cair dan ia mulai mengeluh sakit perut. Saya periksa fesesnya cair berwarna kekuningan dan berbau agak masam. Hmm.. mungkin susunya kekentalan kira saya.

Namun frekuensi BAB-nya semakin hari semakin sering dan Kei semakin sering pula mengeluh sakit perut. Ya, Allah.. kenapa yaa.. ? Mulai dari obat diare untuk anak yang kemasan sampai obat tradisional buatan eyangnya nggak mempan untuk memampatkan dan memadatkan fesesnya, apalagi mengurangi rasa sakit perutnya. Eyangnya pun memberikan Kei pisang barangan yang katanya dapat memadatkan feses dan sedikit mengurangi frekuensi BAB-nya. Alhamdulillah bener sih. Tapi nggak lama, Kei bosan makan pisang. Fesesnya masih cair dan sering BAB plus mengeluh sakit perut.  Saya sempat memberikan Lacto-B kepada Kei.

Alhamdulillah, agak mendingan, tapi dia masih tetap mengeluh sakit perut. Saya pun sempat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, narasumber saya yang baik, dr. Arum Gunarsih, SpA yang praktek di RS Bunda Dalima, BSD. Sayang hari itu, beliau sedang ada seminar, jadi nggak praktek. Saya ceritakan semua keluhan dan gejala-gejala yang kei alami kepada beliau melalui WA (whatsapps). Beliau bilang, ada kuman masuk ke pencernaan Kei.

Nggak pake tunggu lama, saya dan suami membawa Kei segera ke dokternya, dr Mutiara Siagian, SpA di RSIA Buah Hati Ciputat. Sebelum berangkat, saya tulis semua gejala dan keluhan Kei plus pertolongan pertama untuk Kei di buku catatan medis Kei, maksudnya supaya nggak lupa nanti cerita sama dokternya termasuk sudah berapa lama kei mengalami keluhan seperti ini. Benar, setelah diperiksa, dokternya bilang, bakteri ada di pencernaan kei.

Dengan sangat terpaksa, dia memberikan antibiotic  untuk kei habiskan. Buah dan sayur dihindari kecuali pisang dan alpukat. Sayur pun hanya boleh kuahnya saja. Vitaminnya pun dihentikan dulu, sampai obat antibiotiknya itu habis. Susu formula kei pun diganti menjadi susu kedelai. Syukurnya, menurut dokter, Kei nggak sama sekali terkena dehidrasi. Kei masih tetap rajin minum air putih, air  teh manis bakan teh pahit. Makannya pun maunya nasi putih dan roti. Sosis, ayam goreng, dan telur puyuh juga selalu habis dilahapnya. Meski sakit perutnya masih selalu terucap dari mulut mungilnya. Sabaarr ya, naak… semoga cepet sehat lagi.

Alhamdulillah, jelang 2 hari Kei minum obatnya, kondisinya berangsur membaik. Frekuensi buang air besarnya pun berkurang. Fesesnya pun mulai memadat. Nafsu makannya pun mulai berangsur normal. Sampai obatnya habis pun saya masih tetap memberikan susu kedelai kepada Kei. Hahaha.. belum berani deh, ah kasih susu formulanya yang biasa. Buah pun masih tetap saya batasi, pisang dan alpukat saja, sampai saya konsul lagi sama dokternya, kira-kira kapan sudah boleh makan buah-buahan lain, vitaminnya, dan susu formulanya. Diare, oh diare… (Pien/foto:dok pribadi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*